Sabtu, 14 Mei 2016



Lulus dari Jurusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada, Hj. Rr. Ratna Arum Widyati sempat melakoni berbagai pekerjaan, termasuk menjadi operator taksi dan agen MLM. Tujuh tahun setelahnya, ia baru sadar ternyata bakatnya di urusan rancang jahit. Kini, perempuan kelahiran Pekalongan, 7 Pebruari 1966 ini sibuk dengan LPK Ar-Rum di Yogyakarta yang telah meluluskan ratusan siswa. Selain itu, Ratna juga seorang penguji, trainer, instruktur, dan assesor tingkat nasional.

Di LPK Ar-Rum yang ia didirikan Ratna memberikan pelatihan membuat aneka keterampilan dari limbah kain, menjahit busana, membordir dengan mesin dan manual, mendesain, dan membuat kain jumputan. Namun di awal mendirikan, Ratna sebetulnya hanya mengajar menjahit. Tetapi lama kelamaan pengajarannya berkembang menyesuaikan dengan permintaan peserta kursus. Akhirnya, ia juga mengajarkan pemanfaatan kain limbah. Karena kebetulan, ia juga memiliki usaha modeste, yang menyisakan banyak kain tak terpakai. Dari kain-kain itulah lalu ia jadikan aneka kerajinan.


Menurut Ratna bakat menjahit bisa jadi ia peroleh dari ibunya, Ruth Sularsihati, yang juga seorang penjahit, meski hanya untuk mengisi waktu luang saja. Dari seringnya ia melihat sang ibu membuat baju, lama-lama ia pun bisa pula membuat baju sendiri. Pikirnya, kalau ia bisa membuat baju sendiri, maka ibunya tidak perlu terjaga sampai malam hari hanya untuk membuatkan baju untuk dirinya. Tapi secara teori, Ratna belajar menjahit pada teman ibunya, yang memiliki LPK. Ia beralasan, kalau memilih belajar dengan ibu sendiri, bisa jadi akan malas-malasan melakukannya. Dan ternyata, guru menjahitnya, yang ia panggil Bu Titi itu bisa melihat bakat Ratna. Bu Titi lah yang kemudian mendorong Ratna untuk terus meningkatkan diri mengikuti tahapan-tahapan ujian kompetensi mulai dari tingkat dasar, terampil, hingga mahir dan tingkat lanjutan lainnya. Dari situlah, akhirnya Ratna mulai memberanikan diri membuka usaha jahitan sendiri. Kala itu modalnya hanya satu mesin jahit hadiah ulang tahun dari pacarnya, yang sampai sekarang masih tersimpan dengan baik.

Walau saat ini hari-harinya disibukkan dengan mengajar di LPK, namun bila bicara cita-cita sewaktu kecil, Ratna mengaku sebetulnya tidak mau menjadi guru. Dulu ia hanya ingin menjadi pekerja kantoran. Lulus SMA, ia terprovokasi oleh temannya yang mengatakan bahwa kalau kuliah di Jurusan Arkeologi, ia bisa bekerja sambil jalan-jalan ke banyak tempat. Walaupun sebetulnya waktu itu Ratna ingin sekali kuliah Psikologi. Namun setelah lulus, Ratna sempat tidak tahu harus kerja ke mana. Tiap kali mengikuti tes kerja, selalu ada saja halangannya. Kalau tidak terpentok ‘permainan nepotisme’ orang dalam, ia menjadi satu-satunya dari sejumlah kandidat yang nyaris dipilih. Akhirnya, ia malah bekerja sebagai operator taksi hingga tiga tahun lamanya. Bahkan sempat pula berdagang produk MLM.


Ratna bercerita, sejak kecil ia hobi membuat keterampilan. Bahkan setelah kuliah sudah bisa menghasilkan uang sendiri dari kreasinya membuat aneka kerajinan menjahit, seperti tudung saji, tempat tisu, tutup galon, dan lain-lain. Ternyata kerajinan itu laku terjual. Iseng-iseng Ratna pun membuat nama produknya Arum Collection. Lalu pernah ada juga teman kuliah yang minta dibuatkan baju. Akhirnya, karena tak kunjung bisa menjadi pekerja kantoran dan butuh status, Ratna lalu sadar bahwa bakat dan hobinya menjahit bisa ia gunakan untuk mencari uang. Karena itulah, ia lalu belajar menjahit secara benar pada guru. Di tempatnya belajar menjahit, orang-orang sepertinya yang tidak punya status kerja diarahkan agar kelak bisa memiliki LPK sendiri. Ratna sendiri sudah membuka usaha jahitan dan mengantongi beberapa ijazah menjahit. Tapi ia tidak mau berpuas diri dan terus mengikuti uji kompetisi meski biayanya cukup besar untuk ukurannya.

Ratna mendirikan LPK Ar-Rum di tahun 2008. Awalnya dari tetangga yang ingin belajar membuat pola, Ratna pun mengajarinya secara gratis di garasi rumah. Lalu, ada lagi karyawan toko yang ingin belajar menjahit, kemudian adik temannya, hingga yang lain pun ikut berdatangan. Begitu seterusnya, sampai akhirnya Sanggar Keterampilan Belajar milik Pemkot Yogyakarta menggandengnya sebagai pengajar ketika mereka memiliki program. Saat itu Ratna juga sudah mengantongi ijazah Penguji Tingkat Nasional. Kebanyakan peserta kursusnya adalah kaum perempuan. Ada gadis-gadis pekerja kantoran hingga ibu-ibu rumah tangga. Mulai dari orang yang berpunya hingga tidak mampu. Karena itulah terkadang Ratna melakukan kerja sama dengan pihak lain untuk memberikan bantuan mesin jahit bagi yang tidak mampu agar mereka bisa mandiri. Pun, kalau ada peserta yang tidak mampu, Ratna juga bisa menerimanya dengan beasiswa asal ada keterangan dari RT dan RW. Kadang ia juga mengajukan batuan program sosial ke Kemensos dengan mengajar sulam secara gratis kepada siapa saja yang berminat.


Meski saat ini orang bisa belajar menjahit dari internet, Ratna mengaku, peserta kursus di LPK-nya masih banyak. Selain karyawan kantor dan ibu rumah tangga, LPK Ar-Rum juga memberikan CSR pada orang-orang tidak mampu agar bisa belajar menjahit secara cuma-cuma plus memberikan sarananya. Program ini bisa ia lakukan dengan bekerja sama pada pihak lain atau pemerintah. Seberapa pun dananya akan ia jalankan sebaik mungkin demi kebaikan peserta kursus yang dikirim ke lembaganya. Kalau murid-muridnya itu bisa menjahit, maka bisa memperolah pemasukan. Jangankan menjadi penjahit, bisa memermak baju pun juga bisa menghasilkan uang. Bisnis jahitan pun diakui Ratna masih punya prospek yang bagus, walau sekarang orang juga cenderng lebih suka membeli pakaian jadi. Namun tidak semua pakaian jadi yang dijual itu cocok. Nyatanya sampai saat ini, rumah jahit, modeste, dan desainer pun masih kebanjiran order.

Sampai saat ini, Ratna masih mengajar di LPK Ar-Rum, tapi sudah dibantu asisten yang juga sudah lulus uji kompetensi tingkat nasional. Bahkan ia juga masih menerima jahitan. Pagi hari ia biasa memotong bahan, lalu tugas selanjutnya di berikan kepada freelancer untuk menjahit. Di Tahun 2008, LPK yang dikelola anak ke-2 dari 5 bersaudara ini berhasil menyabet predikat Juara 3 Tingkat Nasional Rumpun Kerumahtanggaan sebagai Lembaga Kursus Berprestasi yang diselenggarakan oleh Direktorat Kursus dan Pelatihan Kemendiknas.


Dua tahun sebelum mendirikan LPK, Ratna sebetulnya juga sempat mendapatkan beasiswa S2 dari pemerintah. Bermula, setelah ia melalui serangkaian seleksi dan uji kompetensi, tahun 2006 ia memperoleh beasiswa S2 dari Direktorat Kursus Pendidikan Tenaga Kependidikan (sekarang Dirjen PAUD). Semua kandidat yang memperoleh beasiswa kala itu adalah para PNS, hanya ia sendiri yang bukan. Singkatnya, Ratna berhasil lolos dan bisa melanjutkan S2 di UNY dengan beasiswa itu. Gelar M.Pd pun disematkan di belakang namanya.

Kini Ratna juga menjadi assesor bidang tata busana tingkat nasional. Untuk bisa menjadi seorang assesor, menurutnya, seseorang harus melewati beberapa tahapan uji kompetensi yang tidak mudah. Padahal, status assesor hanya berlaku 4 tahun. Setelah itu refreshing lagi. Kalau tidak lolos refreshing, statusnya dicabut. Ratna menjelaskan secara singkat, tugas assesor adalah penguji kompetensi menjahit di Lembaga Sertifikasi Kompetensi Tata Busana di Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Non Fornal (BANPNF). Badan ini independen namun pendanaannya di bawah Kementerian Pendidikan. Misalnya, sebuah Lembaga Pendidikan Keterampilan menjahit hendak mengajukan akreditasi ke BANPNF. Setelah disetujui, selanjutnya ada bagian visitasi yang akan menilai. Maka, assesor inilah yang kemudian akan menilai dan menguji.

Untuk menjadi assesor, seseorang juga harus punya portofolio yang berhubungan dengan bidangnya. Juga harus ikut ujian dan diklat. Dan Ratna sudah memiliki 20 lebih portofolio, antara lain ijazah kursus dan ujian menjahit tingkat nasional, mulai dari tingkat dasar, terampil, mahir, hingga lingerie. Selain itu Ratna juga telah mengantongi ijazah Master Trainer dan Trainer of Trainer tingkat nasional. Ia juga punya predikat sebagai assesor LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi) Garmen dari BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan).

Sekarang ini pekerjaan Ratna memang multifungsi. Selain mengajar kursus, ia juga assesor untuk program menjahit BAN (Badan Akreditasi Nasional) Pendidikan Nonformal. Contohnya, jika ada lembaga kursus yang akan diakreditasi, ia yang ditugaskan. Juga sebagai assesor LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi) Garmen dari BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan). Ratna juga menjadi tenaga penguji pendidikan nonformal bidang menjahit di Direktorat Bina Kursus. Kesibukan lainnya adalah sebagai sekretaris Himpunan Penyelenggara Pengelola Kursus Indonesia (HIPKI) tingkat provinsi. Sedang di tingkat kota Yogyakarta, ia menjabat sebagai Wakil Ketua HIPKI.

Selain itu, Ratna juga bergabung dengan beberapa organisasi di dunia pendidikan nonformal. Sebagai instruktur, ia tergabung dalam Himpunan Instruktur Pendidikan Penguji Seluruh Indonesia. Sebagai pengelola LPK, ia juga tergabung dalam HIPKI (Himpunan Penyelenggara Kursus Indonesia). Sementara yang berhubungan dengan bidang jahit menjahit, ia tergabung dalam Ikatan Penata Busana Indonesia (IPBI) Kartini. Di tengah kesibukannya itu, Ratna yang sampai saat ini masih lajang pun, juga masih memiliki waktu luang untuk jalan-jalan atau berwisata kuliner, bersama keponakan dan ibunya. 

2 komentar:

  1. Kursus Menjahit dan Modiste "WORO"

    Ingin belajar menjahit? Kursus Menjahit dan Modiste "WORO". Waktu belajar fleksibel, biaya kursus terjangkau Rp 600.000 sampai bisa.

    Kursus Menjahit dan Modiste "WORO"
    Basen KG III/304 RT 15 RW 04 Kotagede Yogyakarta 55173

    Tempatnya memang sederhana, tapi suasananya menyenangkan. Belajar dengan sistem "semi-privat" jadi pelajaran berlangsung dengan menyesuaikan kemampuan siswa.

    Tempat belajar menjahit yang mudah dan menyenangkan.

    Buka Senin - Kamis dan Sabtu mulai jam 10.00 - 12.00 (kelas pagi) atau 13.00 - 15.00 (kelas siang)

    Contact Person (Telp/SMS/WA) :
    Ratri Hapsari 0898-5027-585 atau
    Yose Rizal Triarto 0812-8602-8958.

    Ancer-ancer rumah Ratri/Bu Woro : Dari Tom Silver ke selatan, PKU masih ke selatan 50m ada gang ke kiri/timur jalan (depan smp perak) masuk aja, rumah ke 9, depan rumah ada tanah kosong.

    https://suitincase.blogspot.com/2018/01/kursus-menjahit-dan-modiste-woro.html

    BalasHapus
  2. Selamat pagi/siang/sore/malam Bapak/Ibu/Sdr/i. Mohon maaf bila mengganggu. Izin menginfokan barangkali ada yang sedang membutuhkan tempat untuk belajar menjahit.

    *Yuuk awali tahun 2021 dengan belajar hal baru. Sudah terbukti selama pandemi COVID-19 salah satu keahlian yang tetap dibutuhkan dan dicari adalah menjahit.*

    *Ingin belajar menjahit tapi...*

    ~Waktu terbatas?
    ~Belum pernah belajar jahit sama sekali?
    ~Sudah pernah belajar di tempat lain tapi tidak tuntas?
    ~Kecewa karena di tempat lain...
    ~Biaya mahal?
    ~Suasana belajar kaku?
    ~Sedikit praktek banyak teori saja?

    Tidak masalah! Sekarang sudah ada solusinya!

    *Kursus Menjahit dan Modiste "WORO".*

    √ Biaya kursus terjangkau hanya Rp 700.000 sudah sampai bisa,
    √ Waktu belajar fleksibel,
    √ Belajar menyesuaikan kemampuan siswa,
    √ Tempat belajar sederhana suasana menyenangkan,
    √ Praktek dan teori proporsional,
    √ Memberikan layanan konsultasi bahkan setelah siswa lulus/selesai.

    *Tunggu apa lagi? Silahkan tanya2 Contact Person Pengajar:*

    Ratri lewat (WA/SMS/Telp) di no 0898-5027-585.

    Awal tahun 2021 Kursus Menjahit dan Modiste "WORO" buka kembali dengan jadwal:

    SENIN-KAMIS dan SABTU mulai jam 10-12 (kelas pagi) dan 13-15 (kelas siang).

    *Tentunya dengan menerapkan Protokol Kesehatan COVID-19 dengan 3M yaitu 1. Memakai masker, 2. Mencuci tangan, 3. Menjaga jarak.*

    *Penasaran seperti apa sih tempat kursusnya? Mari silahkan bisa datang dan lihat-lihat dulu.*

    Alamat Kursus Menjahit dan Modiste "WORO" Basen KG III/304 RT 15 RW 04 Kotagede Yogyakarta 55173

    Lokasi di Google Maps: https://goo.gl/maps/tVoNzigrzZr

    Selengkapnya silahkan klik untuk mengunjungi tautan situs berikut: http://suitincase.blogspot.com/2018/01/kursus-menjahit-dan-modiste-woro.html?m=1.

    *Apa ada yang lebih BAGUS dari Kursus Menjahit dan Modiste "WORO"? Yang lebih mahal BANYAK!*

    NB: Jika Bapak/Ibu/Sdr/i merasa informasi ini bermanfaat silahkan kirimkan juga kepada yang lain.

    Semoga selalu sehat dan sukses lancar untuk semua kegiatan Bpk/Ibu/Sdr/i. Matur nuwun. 🙏😊

    BalasHapus