Minggu, 14 Januari 2018


Sejak remaja, Vera Itabiliana Hadiwidjojo sudah tertarik mempelajari karakter dan perilaku orang. Misalnya mengamati mereka ketika sedang berada di restoran. Hanya saja, waktu itu ia belum tahu bahwa itu termasuk ilmu psikologi. Ia juga cukup sering dijadikan teman curhat oleh teman-temannya dan keluarga. Vera sendiri senang menjadi pendengar mereka. Rasanya unik, mengetahui bahwa setiap orang berbeda-beda sifatnya, dan setiap masalah yang mereka ceritakan pun, ia sikapi dengan cara yang berbeda-beda pula. Namun, lantaran saat itu dirinya masih belia, Vera belum bisa memberikan solusi. Kalaupun ada, sifatnya asal saja.

Saat mulai kuliah di Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia, sampai lulus, makin banyak orang yang menjadikannya tempat curhat, bahkan yang tidak kenal sekalipun. Termasuk sopir taksi yang ia tumpangi. Gadis berdarah Betawi-Minang ini mengaku sampai heran sendiri. Dan karena sejak kuliah, ia sudah mulai mengerti ilmu psikologi, Vera pun bisa memberikan solusi. Namun, karena tidak mau nantinya ia disalahkan atas saran yang diberikan kalau ternyata tidak tepat, jadi saran yang disampaikannya berupa pilihan-pilihan. 

Perempuan kelahiran Jakarta tahun 1975 ini mengaku,  sebetulnya tidak pernah bercita-cita menjadi psikolog. Umumnya remaja pada zamannya dulu, cita-citanya juga sama dengan yang lain, yaitu menjadi dokter. Setelah lulus SMA, barulah ia menjadikan psikologi sebagai pilihan kedua. Dan jalur yang ia pilih adalah menjadi psikolog anak-anak. Kebetulan, sejak dulu Vera juga senang berinteraksi dengan anak-anak dan menolong mereka. Ia selalu mudah jatuh hati jika bertemu dengan anak-anak. Karena passion-nya yang memang terasa nikmat bekerja di dunia anak-anak, setelah lulus S1 pada 1999 dan tahun 2001 lulus program Profesi Fakultas Psikologi UI, ia langsung memutuskan fokus pada masalah anak dan remaja. 


Setelah lulus kuliah, perempuan yang terpilih menjadi None Jakarta Selatan 1999 ini langsung praktik di Lembaga Psikologi Terapan-UI bagi anak dan remaja. Ia juga menjadi psikolog sekolah di sekolah Adik Irma di Tebet, Jakarta Selatan setiap hari Sabtu. Sedangkan di hari kerja ia bekerja sebagai Human Resources Development (HRD) di sebuah stasiun televisi. Tapi pekerjaan sebagai HRD itu hanya bertahan satu tahun, karena ia tidak betah menangani orang dewasa. Beda ketika saat menghadapi anak-anak, yang bisa tertawa-tawa. Selain tidak betah, alasannya mengundurkan diri dari stasiun teve juga karena melahirkan. Karena kebetualan dirinya sudah menjadi psikolog, ia jadi tahu banyak tentang perkembangan anak, bagaimana kalau anak hanya bertemu ibu saat malam hari sepulang ibunya bekerja, dan sebagainya. Akhirnya, ia pun memilih resign

Meski mengundurkan diri dari pekerjaan tetap, pekerjaan sebagai psikolog sekolah di berbagai sekolah mulai dari TK sampai SMA terus ia jalani. Antara lain di Sekolah Adik Irma, Sekolah Cikal, Kinderfield, Sekolah Pilar Indonesia, Sekolah Al Fauzien, dan Sekolah Tunas Global. Mengajar mahasiswa juga pernah ia lakukan, tapi hanya berlangsung selama satu semester. Alasannya, juga karena tidak betah. Vera lebih memilih menjadi pembicara seminar dan training. Selain itu ia juga sempat menulis buku, yaitu Tanya Jawab Seputar Perkembangan Anak.

Lama menghadapi anak-anak di sekolah, Vera melihat sekarang ini anak-anak semakin banyak dipengaruhi olah gadget yang menurutnya tidak bagus, baik dalam hal belajar maupun sosialisasi. Pengaruh buruk dalam hal belajar akibat gadget antara lain dari sisi konsentrasi, fokus mudah terganggu, dan belum lagi mereka juga bisa belajar hal-hal yang negatif. Menurutnya, banyak anak yang kebablasan dalam penggunaan gadget. Orangtua biasanya terlena, karena gadget dianggap bisa menenangkan anak. Ketika mereka tahu dampak negatifnya, biasanya sudah terlanjur muncul. Ada banyak kasus yang Vera tangani. Salah satunya ada anak usia 4,5 tahun yang mengalami gangguan fokus dan gangguan bicara karena terlalu sering bermain gadget. Pada remaja lebih bahaya lagi. Banyak kasus penggunaan media sosial yang lebih mengarah ke hal negatif, misalnya membuka konten yang sebetulnya tidak sesuai dengan usia mereka, dan lainnya. Ini bahkan banyak ditemukan pada anak-anak dengan usia yang lebih muda.


Vera menyarankan, sebaiknya orangtua harus memberikan aturan main yang jelas terhadap gadget, baik secara waktu penggunaan, konten, dan lainnya. Kalau aturan mainnya sudah jelas, otangtua juga perlu memberikan kepercayaan pada anak. Jadi, tidak perlu setiap hari dicek penggunaan gadget pada anak-anak, kalau anak juga menaati aturan main. Kalau setiap hari dicek, hubungan dengan anak bisa malah menjadi jelek. Yang penting, sejak awal anak harus tahu mengapa dia tidak boleh lama bermain gadget, dan seterusnya. 

Kalau sedang ada sesi ngobrol dengan anak-anak baik di tempat praktik atau sekolah, Vera sering menjelaskan bahwa otak mereka itu ibarat mesin penggiling daging. Ia juga menyertakan gambar agar lebih mudah mereka pahami. Kalau umur mereka 10 tahun, berarti mesin gilingnya masih kecil. Jadi, daging yang bisa masuk harus pas ukurannya. Kalau umur 10 tahun melihat konten di internet untuk yang usia 18 tahun, berarti potongan dagingnya lebih besar. Kalau begitu, maka yang terjadi mesin bisa rusak, dalam hal ini otak anak-anak. Kalau dagingnya terlalu besar, akibatnya bisa nyangkut di mesin. Artinya, konten itu akan diingat terus oleh anak, sehingga mengganggu konsentrasi belajar, prestasi menurun, dan seterusnya. Apalagi, ada penelitian yang mengungkapkan bahwa otak bisa mengecil kalau kita melihat konten pornografi terus menerus. Diskusi semacam ini menurut Vera, seharusnya sering dilakukan oleh orangtua terhadap anak-anak mereka di rumah.

Vera pun menerapkan aturan bermain gadget pada anak-anaknya. Mereka hanya boleh bermain gadget sejak Jumat sore hingga Minggu sore. Kalau bepergian, boleh dibawa tapi hanya boleh dikeluarkan kalau sedang macet di perjalanan. Setelah sudah sampai tujuan, harus disimpan. Kalau ada pertemuan keluarga dan sedang makan, tidak boleh digunakan. Kalau tidak ada aturan seperti itu, kita sebagai orang dewasa pun gampang tergoda untuk melakukannya. Maka, sebagai orangtua kita juga harus memberi contoh.


Dalam mendidik anak-anaknya, Senopati Arsyad Haryosetyo Hadiwidjojo dan Narapati Arsyad Haryobismo Hadiwidjojo, Vera melakukan apa yang sebatas ia ketahui. Karena menurutnya, menjadi orangtua itu tidak ada ilmunya, melainkan hanya rambu-rambunya. Setiap orangtua berhak punya gaya pengasuhan masing-masing, sebab anak yang dihadapi juga berbeda-beda. Yang penting, orangtua tidak merampas hak anak, yaitu bermain, belajar, kasih sayang, dan keamanan. Pada anak-anaknya, Vera juga membiasakan untuk mandiri. Ia akan marah kalau anaknya tidak disiplin atau lupa meletakkan sesuatu. Jadi, anak-anaknya juga saling mengingatkan satu sama lain.

Ia juga memiliki waktu tersendiri untuk anak-anak. Namanya time for alone. Vera meluangkan waktu 10-15 menit setiap hari untuk setiap anak.  Mirip seperti kencan dengan anak. Di luar itu, ada juga waktu untuk beramai-ramai dengan kedua anaknya dan suami. Namun, karena anaknya yang sulung saat ini sudah makin sibuk, waktu kencannya sudah mulai susah. Paling, Vera hanya sempat mencuri waktu saat anaknya itu bangun tidur di pagi hari atau menjelang tidur di waktu malam. Sambil dipeluk atau elus, ia bisa ngobrol apa saja. Dulu, biasanya ia bercerita tentang kesehariannya atau apa yang ia alami ketika tidak bersama anak-anaknya. Jadi, akhirnya sang anak pun meniru. Mereka menceritakan apa yang mereka rasakan dan alami di sekolah. Vera pun bersyukur, saat ini kedua anaknya sudah bisa minta waktu khusus padanya untuk membicarakan sesuatu yang menurut mereka penting. Karena anak sulungnya sudah mulai remaja, ia pun mewanti-wanti agar kalau terjadi sesuatu, harus berani berbicara. Terkadang, Vera juga membaca gerak-gerik anak untuk tahu apa yang sedang mereka rasakan.

Karena setiap hari Vera juga masih mengantar jemput anak-anakya, maka setiap hari ia masih bisa melakukan kebersaman dengan mereka. Namun, kalau weekend, terkadang ada pekerjaan yang tidak bisa ia tinggal. Bersama anak-anak dan suaminya, Kukuh Komandoko Hadiwidjojo, akhirnya ia membuat kesepakatan, kalau misalnya Sabtu minggu sekarang ia bekerja, maka Sabtu depannya tidak boleh menerima pekerjaan, atau diselang-seling. Sementara hari Minggu sebisa mungkin ia tidak ada pekerjaan. Dan keluarganya juga menerapkan harus ada acara makan siang atau malam bersama setiap Sabtu atau Minggu. Ini akan berlaku sampai anak-anaknya punya pacar. Sementara kalau hari biasa, paling hanya sarapan saja yang bisa dilakukan bersama, itu pun waktunya hanya sebentar.


Menjadi ibu, menurut Vera, adalah pencapaian terbesarnya dalam hidup. Sebab, tantangannya banyak dan dibutuhkan kemampuan untuk mengelola emosi, otak, serta time management yang baik. Tidak ada yang bisa mengalahkan tugas seorang ibu. Oleh karena itu, menjadi ibu adalah pekerjaan utamanya. Apa pun yang ia lakukan, termasuk dalam bekerja, arahnya adalah agar ia bisa menjadi ibu yang lebih baik untuk anak-anaknya. Kalau ia tugas keluar kota misalnya, anak-anaknya pun tidak boleh terlalaikan. Pengalaman orang lain saat melakukan konseling, juga ia jadikan pelajaran untuk mendidik anak-anaknya. Lantaran sudah menjadi ibu, Vera pun berusaha semaksimal mungkin mendidik mereka agar menjadi sesuai harapan, yaitu bisa hidup bahagia. 

Untuk mengapresiasi diri sendiri, Vera biasanya melakukan me time, antara lain menonton serial teve favoritnya sendirian, pergi ke salon, atau jalan-jalan ke mal sendirian kalau ada waktu. Yang paling sering ia lakukan adalah menyetir mobil sendirian sambil mendengarkan musik. Itulah mengapa, sampai sekarang ia masih lebih suka menyetir sendiri. 

Kegiatan Vera saat ini, selain masih tetap praktik di LPT-UI, ia juga praktik di klinik terapi Anak Mandiri, dan menjadi psikolog sekolah di Sekolah Kepompong. Selain itu, ia juga sering menjadi pembicara seminar, menulis untuk majalah, acara talkshow di radio seminggu sekali, juga menjadi tim ahli untuk sebuah produsen susu dan perusahaan mainan asal Amerika. Untuk pekerjaan sebagai konsultan pada produsen susu, dimulai sekitar tahun 2005. Saat itu ada semacam open recruitment untuk tenaga psikolog dari mereka, yang akan dipakai pada acara seminar yang mereka adakan. Vera mendapatkan info itu dari mantan dosennya. Para peramal lalu berkumpul di rumah Prof. Sarlito Wirawan Sarwono (alm) untuk melakukan semacam audisi. Topiknya dipilih secara acak, lalu setiap peserta diminta presentasi sesuai topik selama tiga menit. Beruntung, Vera bersama beberapa temannya lolos. Sejak itulah, ia kerap diminta menjadi pembicara seminar perusahaan susu tersebut sampai sekarang.


Pada suatu hari, ia juga dihubungi oleh perusahaan mainan asal Amerika dan ditawari menjadi konsultan mereka di Indonesia. Tentu saja Vera senang sekali, karena ia tahu, setiap kali mereka membuat acara, mainan produksi mereka disebar agar anak-anak yang diajak orangtuanya bisa bermain sepuasnya. Pada kesempatan itu Vera bisa mengobrol dengan para orangtua sambil duduk di antara mainan-mainan tersebut. Ketika menerima pekerjaan itu, Vera juga sempat diajak ke New York untuk melihat langsung laboratorium mainan mereka.

Sebagai psikolog, Vera berharap orangtua harus lebih mengenali tahapan perkembangan anaknya. Jadi, tidak ada lagi orangtua yang emosi, menyiksa, memukuli, atau membahayakan anaknya karena menganggap anaknya nakal dan tidak bisa diam. Kalau anak masih umur dua tahun memang sedang masanya tidak bisa diam atau sebentar-sebentar menangis. Vera ingin setiap orangtua punya pemahaman yang lebih baik terhadap perkembangan anaknya, sehingga pola pengasuhannya juga bisa lebih tepat. 



0 komentar:

Posting Komentar