Minggu, 18 Desember 2016



Keikhlasan dan kesabaran menjadi kunci ibu tiga anak ini agar bisa bertahan menjadi guru Sekolah Alam Tunas Mulia di kawasan Bantar Gebang, Bekasi. Meski tanpa latar belakang sebagai pengajar, lulusan Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya angkatan 1986 ini tak akan pernah lelah berbagi ilmu di sekolah gratis untuk anak-anak di kawasan pembuangan sampah itu. Keinginannya untuk meningkatkan pendidikan anak-anak kurang beruntung menjadi motivasi bagi perempuan kelahiran 15 Maret 1968 ini untuk tetap menjaga semangat mengajar walau tanpa bayaran.

Perempuan yang kerap disapa Bunda Yati ini mulai bergabung di Sekolah Alam Tunas Mulia sejak tahun 2012 lalu. Awalnya, ia sekedar melakukan bakti sosial (baksos) di sana atas ajakan Bapak Juwarto, salah satu pendiri sekolah, yang kebetulan juga guru mengajinya. Ketika sampai di sana, Yati tiba-tiba merasa ingin memberikan sesuatu yang lebih. Kebetulan, di tahun 2012 itu, ia juga baru saja memutuskan berhenti bekerja, hingga punya banyak waktu kosong dan energi lebih. Karena memang termasuk orang yang tidak bisa diam, Yati pun ingin  memanfaatkan waktu dan energi yang dimilikinya itu dengan sesuatu hal yang ia bisa kerjakan. Setelah selesai menggelar baksos, Yati mengetahui bahwa sekolah itu kurang tenaga pengajar, sehingga kemudian ia ingin jadi pengajar di sana. Prosesnya memang cepat sekali.

Yati bercerita, ada satu momen yang membuatnya bertahan hingga saat ini menjadi pengajar di Sekolah Alam Tunas Mulia. Ada seorang muridnya yang bernama Dede, yang ketika pertama kali bertemu dengannya, langsung memintanya untuk ditemani belajar, karena sudah lama si murid itu tidak pernah belajar. Permintaan Dede itulah yang makin memantapkan hati Yati untuk membantu sekolah ini dengan apa pun yang ia bisa. Murid-murid yang ada di sekolah itu memang ingin sekali belajar. Sementara di luar mereka, ada anak lain yang bisa sekolah dengan mudah, tapi malah menyia-nyiakan kesempatan itu. Yati ingin menjadikan kegiatan ini sebagai ladang amal. Mungkin, menurutnya, karena dari kecil ia sudah senang menjadi guru. Namun ia memang tidak pernah merencanakan untuk menekuni profesi sebagai guru. Yati hanya menganggap, kesempatan yang datang padanya saat ini suatu kebetulan saja. Pun, Yati merasa saat ini sudah tidak ada lagi hasrat untuk mengejar kehidupan dunia. Hidupnya sudah cukup bahagia. Ukuran sukses baginya bukanlah materi, tapi hidup di jalan agama yang benar. Yang penting, ia bisa mencari uang dengan cara yang halal. Baginya harta dan tahta hanya sebuah godaan. Karena semakin banyak uang yang kita miliki, godaan yang datang pun akan semakin banyak.


Yati juga bukan berasal dari keluarga berkecukupan. Ayahnya sudah meninggal saat ia baru berusia 5 tahun. Yati adalah anak keempat dari lima bersaudara. Ibunya tidak menikah lagi meski penghasilannya pas-pasan. Namun, sang ibu sangat mementingkan pendidikan. Ibunya juga menuntut agar anak-anaknya harus mendapatkan sekolah negeri, karena tidak ada biaya untuk menyekolahi di sekolah swasta. Lulus SMA, Yati mengukur diri untuk masuk Perguruan Tinggi Negeri. Dari semua fakultas yang ada, ia sengaja memilih peternakan yang proses masuknya lebih mudah. Lulus kuliah ia lalu bekerja di sebuah perusahaan peternakan, sampai akhirnya memutuskan berhenti di tahun 2012.

Setelah memutuskan untuk menjadi pengajar di Sekolah Alam Tunas Mulia, Yati mengaku masih ada beberapa hambatan yang  sering ia temukan. Ia akui, sebagai manusia biasa kadang ada saja sifat malasnya. Jarak sekolah dari rumahnya lumayan jauh dengan kondisi jalan yang juga kurang bagus. Bila hujan jalanan licin. Bahkan ia pernah beberapa kali terjatuh dari motor akibat jalanan yang licin itu. Tapi, setiap kali muncul perasaan malas, Yati selalu teringat dengan kata-kata Dede. Itu yang memicunya untuk terus datang dan mengajar. Terlebih saat ini, Yati juga sudah dipercaya untuk menjabat sebagai Kepala Sekolah. Selain itu, karena lokasinya yang berada di tempat pembuangan sampah, kadang ada dampak sosial yang tidak terlihat. Misalnya, di sana banyak pasangan yang tidak menikah, karena ketidak tahuan dan tidak punya biaya. Akibatnya, banyak anak-anak di sekitar sana yang tidak terdidik dengan baik. Menurut Yati, mendidik itu tidak hanya mengajar, tapi banyak aspek lain di dalamnya. Misalnya soal sopan santun, etika, dan tata tertib. Hal-hal tersebut harus diperbaiki terlebih dulu. Yati bercerita, banyak murid-muridnya yang sulit untuk diam dan mendengarkan. Belum lagi soal kebersihan, mungkin karena hidup mereka selalu dikelilingi sampah, jadi sangat susah untuk diajarkan kebersihan.

Namun, menurut Yati, untuk mengatasi hambatan itu kuncinya harus kembali sabar. Ia memang harus belajar terus untuk meningkatkan kesabaran. Yati tidak pernah merasa heran dengan sikap anak-anak didiknya yang sejak kecil memang sudah dituntut untuk mandiri. Orangtua mereka sudah sibuk mencari uang. Jadi jangankan untuk mendidik, untuk menyiapkan makanan buat anaknya sendiri saja mereka tidak punya waktu. Orangtua cukup memberi uang ke anaknya supaya bisa membeli makan sendiri. Jadi, kalau sudah mulai kehilangan kesabaran, Yati memilih untuk berhenti terlebih dahulu sampai menunggu semuanya tenang, sebelum ia mulai lagi mengajar. Semuanya cukup ia lakoni dengan sabar dan ikhlas, dan membiarkannya mengalir tanpa perlu ada rencana. Dan Yati bersyukur, sekarang anak-anak didiknya sudah hidup lebih bersih, rapih, tertib, santun, dan jujur.


Sekarang, di Sekolah Alam Tunas Mulia, kelas dan guru sudah mulai dipisah sesuai tingkatannya. Saat ini ada kelas dari PAUD, SD, dan SMP. Dengan jumlah guru sebanyak 8 orang, Sekolah Alam Tunas Mulia kini telah memiliki ratusan murid. Bahkan ada murid yang mendapatkan kuliah gratis di Universitas Jayabaya, dan juga ada yang mendapat beasiswa. Namun, untuk biaya kos, makan, dan lain-lain masih ditanggung pihak sekolah. Sedikit demi sedikit, para orangtua murid juga diberikan pendidikan. Kadang, yang membuat Yati sedih, ada murid yang baru lulus SD, sudah tidak diperbolehkan sekolah lagi oleh orangtuanya, karena harus mengurus adik. Bahkan ada anak didik yang sudah kuliah, tapi tiba-tiba harus berhenti karena menikah. Kejadian ini sempat membuat Yati merasa gagal dan syok. Namun, ia memang tidak bisa berbuat apa-apa. Meski wilayah tempat Sekolah Alam Tunas Mulia termasuk kota, tapi pola hidup masyarakatnya masih seperti masyarakat pedalaman.

Sekolah Alam Tunas Mulia berdiri di atas tanah wakaf. Untuk biaya operasional mereka mendapatkannya dari donatur. Selain kegiatan belajar mengajar, Sekolah Alam Tunas Mulia juga kerap membuat acara bakti sosial, seperti menjual sembako murah dan pemberian baju-baju layak pakai. Suami dan anak-anak Yati sangat mendukung kegiatan yang ia lakukan. Bahkan letiga anaknya juga kerap Yati libatkan dalam kegiatannya. Untuk membagi waktu dengan keluarga, Yati juga tidak merasa kesulitan. Ia pun masih bisa melakukan tugas antar jemput anak bungsunya yang masih sekolah SD dan masih bisa mengurus rumah. Siang sampai sore Yati berada di sekolah, selesai mengajar masih ada aktivitas lain yang bisa ia lakukan seperti mengikuti pengajian. Bahkan di hari Sabtu dan Minggu Yati masih punya waktu untuk berjualan baju di pasar.

Semua kegiatannya memang bisa ia jalani karena ada dukungan dari suami. Yati bertemu suaminya saat masih mahasiswa dan mengikuti kegiatan Pencinta Alam. Setelah 8 tahun pacara, mereka pun sudah saling mengenal satu sama lain. Sang suami juga tidak terlalu banyak menuntut, dan malah mendukung kegiatannya 100 persen. Hubungan Yati dengan anak-anak juga seperti teman. Bahkan anaknya tak ragu untuk curhat bila memiliki teman dekat atau putus dengan pacarnya. Namun, Yati tetap memberlakukan batasan kepada anak-anaknya. Misalnya, anak keduanya yang perempuan tidak boleh naik gunung sendiri kecuali bila ditemani kakaknya yang laki-laki. Kuncinya, menurut Yati, semua kegiatannya bisa berjalan dengan baik karena bisa menjaga komunikasi antar anggota keluarga. Segala seusatu tidak dibuat rumit.


Rencana ke depan, karena sekolahnya memiliki konsep alam, maka Yati perlu lebih menekankan kegiatan luar ruangan dengan memberikan pendidikan praktis. Misalnya berkebun, beternak lelel, dan kambing. Bahkan saat ini Sekolah Alam Tunas Mulia juga sudah mempunyai sekolah sepak bola. Jangka panjangnya, Yati ingin sekolah ini bisa menjadi tempat field trip anak-anak dari sekolah lain. Yati juga berencana ingin membuat sebuah stasiun radio, agar anak-anak muridnya bisa lebih percaya diri. Melalui kegiatan siaran radio, Yati berharap wawasan mereka pun jadi lebih luas. Selain itu, masih ada sesuatu yang "wah" yang ingin Yati lakukan di sekolah ini, meski Yati sendiri belum tahu apa bentuknya. Yang jelas, Yati hanya ingin semua kegiatan yang ia lakukan bisa mengangkat nama Sekolah Alam Tunas Mulia. Dan Yati percaya Tuhan akan memberi kemudahan untuk semuanya.

2 komentar:

  1. Masyaa Allah Yati. Alhamdulillah bisa berbuat sesuatu yg bermanfaat. Smg barokah ya.....
    We are proud of you. Sukses ya...

    BalasHapus
  2. Sang motivator..sabar dan penuh dedikasi. Barakallah bunda

    BalasHapus