Pernah
menjabat sebagai kepala desa, ibu dua anak ini aktif memberdayakan masyarakat
Desa Joho, sebuah desa di lereng Gunung Wilis, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Di
sana ia mendirikan koperasi untuk mengusir para rentenir yang merongrong warga
desa. Kerja kerasnya pun berbuah manis. Berbagai penghargaan ia terima, selain
juga kerap menjadi pembicara di berbagai forum skala nasional hingga
internasional. Penghargan yang pernah ia dapatkan antara lain sebagai Pemuda
Pelopor Terbaik Se-Kabupaten Kediri dan Terbaik ke 3 Tingkat Jawa Timur. Tahun
2013, ketika menjadi Kades, ia juga meraih penghargaan Kalpataru Tingkat
Provinsi, setelah berhasil melestarikan kawasan-kawasan gundul di desa Joho.
Kunci keberhasilannya menurut Sulastri sederhana saja, yaitu selalu semangat,
mau menjalin komunikasi, dan kreatif. Maka sesulit apa pun, dengan izin Tuhan
pasti akan ada jalan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Langkah
Sulastri memberdayakan masyarakat Desa Joho dimulai tahun 2005 dengan mendirikan
paguyuban perempuan Sido Rukun, koperasi Sido Makmur, Taman Pendidikan Al-Quran
bagi anak-anak pra sekolah, beternak kambing bergilir, serta arisan. Arisannya
pun macam-macam, mulai arisan uang, sembako, dan lain-lain. Sebetulnya, menurut
Sulastri arisan ini hanya sebagai wadah, yang tujan utamanya adalah bagaimana
ibu-ibu warga desa bisa berkumpul, saling berbagi masalah yang dihadapi
sehari-hari, lalu dipecahkan bersama. Ternyata ibu-ibu itu senang sekali.
Hadirnya paguyuban seolah menjadi wadah mereka curhat masalah kemasyarakatan
yang kemudian dibahas bersama. Karena sebelumnya memang tidak ada saluran buat
mereka untuk berbagi cerita, ditambah lagi sehari-hari para ibu itu juga sibuk.
Pagi berangkat ke ladang membantu suami sampai siang atau sore. Atau kalau
tidak ke ladang mereka hanya mengasuh anak di rumah, begitu seterusnya.
Ketika
Sulastri mendirikan koperasi simpan pinjam, para ibu itu juga menyambut dengan
penuh antusias. Tujuannya mendirikan koperasi itu karena melihat kondisi yang
sudah sangat memprihatinkan. Saat itu banyak masyarakat yang terjerat utang ke
rentenir yang keliling dari kampung ke kampung. Jalan pintas itu terpaksa
dilakukan karena mereka memang tidak bisa meminjam selain ke rentenir. Maka,
Sulastri berpikir, satu-satunya jalan untuk mematikan mata rantai rentenir itu,
hanya dengan mendirikan koperasi. Dengan koperasi, warga tak perlu lagi menjadi
budak dari para pemburu rente. Pertama kali berdiri, masing-masing anggota
wajib menyetor simpanan pokok sebesar Rp 20.000, sedang simpanan wajib setiap
bulannya masing-masing Rp 1000. Karena modal koperasi masih sangat kecil,
setiap anggota dibatasi maksimal dalam seblan hanya boleh meminjam Rp 50.000.
Sejak itu, warga pun mulai rajin berkomunikasi dan berkumpul setiap bulan.
Selain
mendirikan koperasi, Sulastri juga mempelopori usaha pembuatan keripik pisang.
Karena ia melihat, dulu Desa Joho merupakan penghasil pisang yang cukup besar.
Tetapi saat itu belum bisa dimanfaatkan dengan baik, sehingga lagi-lagi
dikuasai oleh para tengkulak. Kala itu satu tandan pisang dibeli tengkulak Rp
5000, atau paling mahal Rp 7.500. Maka bisa dibayangkan betapa ruginya petani
di Desa Joho. Sulastri lantas membuat terobosan. Ia belajar cara membuat
keripik pisang. Setelah berhasil, ia berbagi pengetahuan ke ibu-ibu untuk
belajar bersama-sama. Dari sinilah, Sulastri dan warga baru menyadari, setelah
diolah menjadi keripik matang, satu tandan pisang bisa menghasilan sampai Rp
75.000. Walau memang ada biaya tambahan yaitu minyak untuk menggoreng, tetapi
tetap saja untungnya masih cukup tinggi dibanding dijual mentah per tandan.
Setelah
berhasil membuat keripik pisang, kemudian bersama para warga Sulastri juga
membuat keripik talas dan ketela pohon. Selain pisang, Desa Joho juga adalah
penghasil ketela pohon dan talas. Hingga kini, Desa Joho pun sudah dikenal
sebagai penghasil keripik untuk kawasan Kediri. Saat pertama kali berdiri,
warga lah yang membuat, sementara Sulastri bertindak sebagai pengepul dan
memasarkan. Tapi, setelah berkembang seperti saat ini, mereka sudah berusaha
sendiri-sendiri. Ada yang menjual di toko oleh-oleh di kota Kediri, ada juga
yang menjual dengan ukuran kecil di warung-warung.
Setelah terjun
ke masyarakat, Sulastri lalu menyadari bahwa posisi kaum perempuan di
pemerintahan desa sepertinya dikesampingkan. Semua didominasi laki-laki,
sementara perempuan seolah tidak memiliki peran kecuali hanya memasak, merawat
anak serta membantu suami di ladang. Maka, atas dukungan para perempuan, tahun
2008 Sulastri diminta maju mencalonkan diri dalam pemilihan kepala desa. Dengan
tujuan agar hak-hak perempuan terlihat lebih menonjol. Dan Sulastri amat
bersyukur ketika akhirnya ia terpilih menjadi kepala desa. Setelah menjadi
kepala desa, selain berupaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, ia pun
mengajak perempuan untuk ikut berperan di dalam pemerintahan desa. Ibu-ibu ia
libatkan dalam pengambilan keputusan, bahkan akhirnya Sulastri pun mengangkat
seorang kepala dusun perempuan. Dari sana, masyarakat menyadari bahwa seorang
perempuan itu multitalenta dan bisa mengerjakan berbagai hal. Sulastri
menceritakan, kepala dusun yang ia angkat itu kemampuannya sangat bagus bahkan
melebihi perangkat desa yang laki-laki. Dia lebih terampil dan mampu
mengorganisir warga dengan sangat baik.
Sulastri lalu
juga mendirikan PAUD di Balai Paguyuban. Balai Paguyuban itu menempati salah
satu rumah kosong miliknya. Setelah PAUD, menyusul kemudian Taman Pendidikan
Al-Quran (TPQ). Itu karena ia sangat prihatin. Ketika para ibu berangkat ke
ladang atau sawah, anak-anak mereka yang ditinggalkan di rumah bermain tanpa
arah. Dengan berdirinya PAUD, anak-anak tersebut lalu Sulastri kumpulkan di
rumahnya untuk diajari menyanyi, mengaji, juga pelajaran yang ringan-ringan.
Pengajar PAUD ia ambil dari ibu-ibu yang tidak memiliki kegiatan di rumah yang
bersedia mengajar. Sebagai bentuk penghargaan pengajar di PAUD dan TPQ,
Sulastri membuat peternakan kambing secara bergiliran untuk para pengajar.
Caranya, kambing itu diternak oleh guru PAUD dan TPQ, lalu begitu kambing itu
bunting dan melahirkan, anaknya diambil oleh pengajar PAUD. Setelah itu
induknya dioper ke pengajar lain sampai bunting dan melahirkan lagi. Begitu
seterusnya. Kalau semua pengajar sudah mendapat jatah, induk kambing baru
dioper ke anggota biasa. Kalau induknya sudah tua, akan ditukar di pasar hewan
dengan yang lebih muda.
Sekarang
perkembangan koperasi yang Sulastri dirikan berkembang pesat. Bahkan perputaran
uangnya sudah mencapai sekitar Rp 1 miliar lebih. Kalau dulu sebulan hanya
boleh pinjam Rp 50.000, sekarang bisa sampai Rp 5 juta, bahkan Rp 10 juta. Jadi
sekarang, kalau ingin menggelar hajatan khitanan atau kawinan, atau ada
kebutuhan lain yang mendadak, anggota koperasi sudah tidak pusing cari pinjaman
ke rentenir, karena sudah bisa pinjam di koperasi sendiri. Tak hanya itu, di
waktu-waktu tertentu, misalnya saat ulang tahun berdirinya koperasi, para
anggota bisa berwisata bersama, misalnya wisata religi. Hal itu bisa membuat
para ibu bahagia sekali, karena biasanya mereka hanya ke ladang atau sawah,
tidak pernah terpikirkan bisa jalan-jalan ke makam para wali sampai ke luar
kota.
Secara umum,
sekarang ekonomi masyarakat pun sudah makin membaik dan berjalan sangat aktif.
Salah satu contoh, dulu perempuan yang bisa naik motor dan bepergian ke sana ke
mari itu hanya Sulastri sendiri, tetapi sekarang hampir semua perempuan sudah
menggunakan motor untuk beraktivitas, termasuk kalau berjualan dari kampung ke
kampung. Jadi, mereka saat ini terlihat aktif, tidak lagi hanya diam di rumah
seperti dulu. Dalam hal pendidikan, Sulastri pun turut memberikan motivasi. Ia
menyampaikan kepada warga bahwa pendidikan itu sangat utama. Meski tinggal di
desa di atas gunung yang jauh dari perkotaan, tetapi anak-anak harus tetap
bersekolah setinggi mungkin. Dulunya, anak-anak warga Desa Joho setelah tamat
SD tidak sekolah lagi dan membantu bapaknya mencari rumput untuk ternak.
Sulastri tentu tak sekedar berucap, tapi sekaligus memberi contoh pula.
Misalnya, ketika anak pertamanya, Imam Husain Ramadhan masih balita dan di desa
belum ada PAUD, Sulastri lantas memasukkannya ke PAUD di kota Kediri. Dari
situ, para ibu jadi mengetahui bagaimana setiap pagi Sulastri harus hilir mudik
sejauh 25 km dari desa ke sekolah di kota. Begitu juga dengan anak keduanya,
Cantika Dinda. Sampai kemudian Sulastri mendirikan PAUD di desanya. Sekarang
anak-anak warga desa pun sudah tidak ada yang tidak sekolah, bahkan banyak yang
sudah mampu kuliah.
Di tahun 2008,
setelah terpilih menjadi kepala desa, Sulastri pernah memaparkan pengalamannya
di sebuah acara yang diadakan Universitas Indonesia (UI), di Depok. Tema
besarnya saat itu adalah Perlawanan Perempuan Menghadapi Krisis Ekonomi. Di
kesempatan itu perempuan-perempuan hebat di Indonesia diundang dan
masing-masing memberikan paparan. Sulastri bersyukur, pengalamannya itu
mendapat apresiasi dan aplaus yang luar biasa. Meski secara jujur ia akui saat
itu sebenarnya ia agak grogi, karena dirinya hanya tamatan SMA, sementara
peserta yang lain memiliki pendidikan yang jauh lebih tinggi. Tak hanya itu,
Sulastri juga pernah tampil di forum internasional di Bali. Pesertanya kali ini
justru para wanita hebat dari berbagai negara. Karena Sulastri tidak bisa
berbahasa Inggris, jadi ada petugas yang menerjemahkan paparannya ke dalam
bahasa Inggris.
Suami
Sulastri, Mulyono, adalah seorang wirawasta yang menjual pupuk kandang ke
Wonosobo. Sulastri jujur mengakui ia sangat bersyukur bertemu Mulyono, karena
suaminya itu sangat mendukung apa saja yang ia lakukan bagi masyarakat.
sangat inspiratif. semoga banyak lahir pemimpin yang amanah.
BalasHapus