foto : tabloidnova.com |
Latar belakang
pendidikan Marini memang sebagai guru olahraga atletik. Di tahun 2003 ia
mengawali kariernya menjadi pelatih bagi anak-anak spesial. Saat itu ia masih
tercatat sebagai mahasiswi Jurusan Olahraga di Universitas Negeri Jakarta.
Kebetulan, di kampusnya itu memang ada mata kuliah paralympic, yang khusus untuk melatih anak-anak spesial, seperti
tuna grahita, tuna netra, tuna rungu, dan lain-lain. Namun Marini kemudian
lebih mengkhususkan diri untuk melatih anak-anak tuna grahita, atau adaktif. Karena
ia melihat anak-anak tuna grahita ini kalau berlatih terlihat sangat bahagia.
Latihan digelar setiap hari Sabtu, dan hari itu menjadi hari yang
ditunggu-tunggu oleh mereka. Karena di hari itulah selain bisa berlatih mereka
juga bisa bertemu teman-temannya, hingga betul-betul terlihat lebih segar dan
bahagia. Bahkan, menurut para orangtua, kalau tidak ada yang mengantar mereka
untuk berlatih di hari itu, mereka bisa marah dan sedih. Dari situlah, Marini
jadi bersemangat melatih mereka dan berusaha tidak mengecewakan mereka.
Awalnya,
Marini hanya melihat salah seorang dosennya yang menjadi pelatih bagi anak-anak
spesial ini. Marini sendiri ketika itu masih menjadi atlet. Dan karena seringnya
melihat mereka berlatih, Marini pun semakin ingin untuk ikut melatih mereka.
Karena menurutnya, dengan melatih mereka bisa menjadi sumber semangatnya untuk
berlatih sendiri menjadi atlet. Kalau anak-anak spesial itu saja bersemangat,
mengapa ia tidak ? Walau akhirnya, seiring berjalannya waktu, Marini memang
lebih tertarik menjadi pelatih, dan mundur menjadi atlet. Ia ingin membantu
anak-anak spesial ini untuk berprestasi. Di awal menjadi pelatih, ia
berkesempatan bertemu dengan Bapak Soerjadi Soedirdja, pelindung dan pembina
Special Olympic. Dalam sebuah kesempatan, istri dari Soerjadi Soedirdja pernah
mengatakan padanya, bahwa dengan menjadi pelatih bagi anak-anak spesial,
mungkin akan menjadi kunci surga baginya. Di situlah mata hati Marini semakin
terbuka, dan ia ingin menjadikan dirinya berguna bagi orang lain.
Menurut Marini
anak-anak spesial itu sebetulnya manusia yang suci, namun orang lainlah yang
mengotori mereka. Marini pun dengan ikhlas membantu mereka, meski saat itu
statusnya hanya menjadi relawan, dan tanpa digaji. Ternyata, ia mendapat
kesempatan melatih tim atletik anak-anak spesial ini untuk menghadapi Special
Olympics tahun 2007 di Beijing, Tiongkok. Ia menganggapnya ini adalah buah dari
keputusannya, dan hadiah dari apa yang ia lakukan. Marini makin merasa bahwa
Tuhan memang tidak pernah tidur. Ketika kita sudah ikhlas dalam melakukan
sesuatu, balasan yang baik pasti ada.
Dari Special Olympics inilah ia kemudian mendapat jalan untuk menjadi PNS di Kemenpora tahun 2008 melalui jalur prestasi. Ia berhasil lulus dari berbagai tes dan kemudian ditugaskan pada bidang Olahraga Layanan Khusus. Dengan menekuni profesi ini, Marini merasa hidupnya jadi semakin berwarna. Dengan adanya anak-anak special itu, ia bisa berkarya. Dan turut bangga ketika anak-anak itu bisa berprestasi di tingkat dunia. Misalnya, belum lama ini anak-anak binaan Marini ketika mengikuti ajang Special Olympics di Los Angeles, Amerika Serikat, berhasil pulang membawa 19 medali emas, 12 perak, dan 9 perunggu. Khusus atletik, mereka berhasil menyumbang 1 emas, 2 perak, dan 3 perunggu. Sementara pada Olimpiade sebelumnya di Yunani, mereka bisa membawa 15 medali emas. Imbasnya, selain pemerintah, berbagai pihak pun juga mulai melirik keberadaan atlet-atlet spesial ini. Pada Olimpiade yang diselenggarakan di Amerika Serikat, mereka yang meraih emas mendapat bonus Rp 200 juta. Tak pelak orangtua mereka pun turut bangga dan terharu. Lebih-lebih ada anak yang mendapat 3 medali emas, hingga total bonusnya Rp 600 juta.
Walau bonus sebagai
pelath tidak sampai sebesar itu, tapi Marini tidak mempermasalahkan. Baginya,
masih mendapatkan bonus pun ia sudah bersyukur, tidak pernah melihat
nominalnya. Dan melihat murid-muridnya berprestasi, sehat dan bugar saja, sudah
membuatnya senang. Marini menyatakan, ada dua penyebab kapan lagu Indonesia
Raya dikumandangkan di negara lain. Pertama yaitu ketika Presiden datang
berkunjung ke sebuah negara, dan kedua adalah ketika atlet Indonesia menjadi
juara dalam sebuah pertandingan olahraga internasional. Dan ketika melihat
atlet-atletnya naik ke podium dalam kejuaraan yang diikuti, itu saja sudah
membuatnya sangat bangga. Pun, Marini juga senang dengan menjadi pelatih ia
bisa mengunjungi beberapa negara. Ketika mengikuti Olimpiade di Los Angeles,
bahkan ia bisa bertemu dengan artis-artis kelas dunia. Karena ajang Special
Olympics itu memang dihadiri oleh artis-artis papan atas Hollywood seperti
Oscar de la Hoya, dan Keanu Reeves. Bahkan acara itu juga dibuka oleh Ibu
Negara Amerika Serikat, Michelle Obama. Marini sudah cukup bahagia bisa melihat
mereka dari dekat, walau tidak bisa bersalaman.
Sejak menjadi
pelatih, Marini pun juga beberapa kali menyabet penghargaan, di antaranya
Penghargan dari Kemenpora sebagai Pelatih Olahraga Prestasi dan salah satu dari
9 Pahlawan Untuk Indonesia dari MNC TV. Padahal ia sama sekali tidak pernah
terpikir bakal mendapat penghargaan, dan tidak tahu dari mana mereka bisa
memasukkannya sebagai kandidat. Karena semua yang ia lakukan didasari dengan
rasa ikhlas. Jadi, penghargaan itu bagaikan mimpi bagi Marini.
Menjadi
pelatih bagi anak-anak spesial tentu butuh kesabaran yang ekstra. Banyak suka
dan duka yang dirasakan Marini. Ia menjelaskan, kadang mood dari anak-anak muridnya tidak bisa ditebak. Kalau mereka
sedang kesal, tidak jarang ia sering kena pukul. Dan cukup sulit untuk membuat
mereka kembali mood dan mau berlatih
kembali. Pun, mereka juga suka berbuat usil. Marini bercerita, saat pertami
kali menjadi pelatih, celananya sampai ditarik hingga kedodoran. Tapi Marini
tidak menyerah. Ia justru bersyukur banyak pelatih senior yang membantunya
beradaptasi. Memang, berbeda dengan melatih atlet normal, para atlet spesial ini
harus mendapat perhatian lebih. Apalagi saat mereka harus masuk training centre untuk persiapan
bertanding. Mereka harus diperhatikan sejak bangun tidur sampai tidur lagi.
Sementara atlet lain mungkin bisa dikasih tahu jam berapa harus tidur dan
sebagainya, tapi atlet spesial ini tidak bisa.
Belum lagi
masing-masing atlet juga punya kebiasaan berbeda saat bersiap tidur. Contohnya,
ada atlet yang sebelum tidur harus bernyanyi dulu, menelepon orang tuanya, harus
dipegang telinganya saat mau tidur, dan macam-macam lainnya. Marini juga tidak
bisa memaksa atlet-atlet ini. Karena ada yang bila dikerasi justru akan marah
dan mogok berlatih. Jadi, dibutuhkan formula berbeda antara atlet yang satu
dengan yang lain, supaya mereka mau berlatih dan termotivasi. Tapi justru itu
yang membuatnya suka kangen bila lama tidak melatih atlet-atlet spesial itu. Marini
juga mengaku, kadang sebagai pelatih ia juga pernah merasa tidak mood untuk melatih. Tapi seringnya, rasa
bad mood-nya langsung hilang ketika
melihat wajah dan tingkah laku murid-muridnya. Kalau pun masih tidak mood, ia lebih baik mengambil waktu
sebentar untuk istirahat, misalnya dengan pergi karaoke, atau sekedar bernyanyi
di kamar mandi.
Memegang atlet
dengan low ability, juga tidak boleh lepas dari pengawasan. Ada cerita
saat ia mengikuti Special Olympics di Beijing. Suatu ketika saat sedang
jalan-jalan, sambil membawa dua anak yang low
ability, Marini merasa tiba-tiba perutnya mulas sekali sehingga harus
segera ke toilet. Sayangnya, tidak ada orang lain yang bisa menggantikannya
untuk menjaga dua anak itu. Akhirnya, terpaksalah ia membawa mereka ke toilet,
daripada mereka sampai hilang. Pengalaman lucu juga kerap dialami Marini.
Pernah kejadian, ada atlet yang buar air besarnya berantakan dan tidak bisa
cebok. Akhirnya, Marini yang harus membersihkan sekaligus mengajarkan agar ke
depannya atlet itu bisa mandiri.
Kini di
Jakarta, sudah ada sekitar 300-an atlet spesial dari tujuh cabang olahraga yang
ikut dalam Special Olympics. Cabang olahraga yang diikuti oleh atlet Indonesia
itu adalah atletik, bulu tangkis, renang, tenis meja, sepak bola, bola basket,
dan boci, yakni olahraha serupa bowling
tapi khusus untuk atlet yang low ability.
Sementara untuk nomor atletik yang biasa diikuti adalah nomor lari, lompat, dan
lempar.
Marini
bercerita, awalnya kedua orangtuanya sempat meragukan keputusannya menjalani
profesinya saat ini, terlebih ia memulainya dengan hanya menjadi relawan. Jadi
tidak ada pemasukan finansial, sebelum akhirnya ia menjadi PNS. Ketika menikah
di bulan November 2008, sang suami pun juga sempat bertentangan dengannya.
Namun setelah melihat kesungguhan Marini, ia bersyukur sekarang keluarganya
merestui dan mendukung langkahnya. Ia juga bahagia karena keluarganya mendukung
dirinya untuk membuat hidupnya berguna bagi orang lain dan negara. Marini pun
berusaha untuk membagi waktu antara profesi dan keluarga. Di sinilah, menurut
Marini, pentingnya kerja sama tim antara dirinya, suami, dan orangtuanya. Juga
dibutuhkan keikhlasan dan kepercayaan dari sang suami. Marini masih selalu
berusaha ada waktu untuk keluarga. Kadang ia jalan-jalan, atau mengajak
anak-anak untuk melihatnya melatih.
Harapan
Marini, ke depan akan semakin banyak atlet spesial dan di Olimpiade yang
diikuti, prestasi mereka semakin meningkat. Selain itu juga semakin banyak
orang yang mau meluangkan waktu dan tenaganya menjadi relawan, bergabung
bersama dengannya melatih atlet spesial. Apa pun latar belakangnya, tidak harus
selalu dari bidang olahraga. Marini mengaku sudah tidak ada keinginan untuk
menjadi atlet lagi, karena merasa sepertinya nasibnya kurang beruntung jika
menjadi atlet. Terakhir, ia menjadi atlet lontar martil dan pernah mengikuti
PON, tapi ia hanya sampai di urutan ke 4 atau 5. Sebelumnya ia juga pernah
menjadi atlet sprinter dan jalan
cepat. Meski begitu, dengan menjadi pelatih, ia pun tetap bisa berada di
lapangan. Dan ternyata, Tuhan memang memberikan kesempatan agar dirinya menjadi
seperti sekarang ini.
Siang, sy boleh mendapatkan no kontak ibu Rini atau lokasi tempat berlatih? Thanks
BalasHapus