Selasa, 11 Februari 2014




Penampilan dalang muda kelahiran 15 Agustus 1975 ini lebih mirip pemain band : berambut gondrong, wajah menarik, dan pintar main gitar. Pria bernama lengkap Nanang Henri Priyanto ini menggagas Wayang Urban untuk mendekatkan wayang dengan kaum muda di perkotaan. Hasilnya, sebuah pertunjukan wayang yang enak dinikmati oleh semua kalangan.

Sebagai dalang wayang kulit, selama ini Nanang bergaul dengan teman dari beragam latar belakang, tidak hanya dari kalangan tradisi. Ia sering bertemu teman-teman muda yang ingin mengetahui soal cerita wayang dan segala tradisinya, tapi terkendala karena mereka tidak mengerti dengan bahasa pedalangan. Selain itu, mereka yang terutama tinggal di kota besar juga terkendala ritme pertunjukan yang menurutnya lamban.

Hal yang dapat dimaklumi bila mereka punya pandangan seperti itu, karena teman-teman dari kalangan muda ini memang tidak pernah diajari bagaimana mengapresiasi seni tradisi. Misalnya saja, sejak kecil mereka tidak pernah menonton wayang. Dengan demikian, mereka pun jadi berjarak dengan media ungkap wayang, artistik, dan simbol-simbolnya.


Nanang berpandangan, perlu ada yang menjembatani tradisi dengan kondisi kota besar. Ia pun mulai menciptakan seni pertunjukan wayang yang menyasar kaum muda. Nanang yakin, di kota-kota besar, masih banyak kalangan muda yang ingin mengetahui soal wayang, namun terkendala dengan bahasanya. Oleh karena itu perlu ada cara alternatif untuk mengemas wayang agar dapat dinikmati kalangan muda ini.


Nanang pun mulai mengemas ulang cerita wayang. Ibarat tradisi adalah sebuah rumah, maka ia seperti bermain ke luar rumah dengan memasuki ritme kehidupan anak muda perkotaan. Dalam pertunjukan yang dimainkannya, di sana tetap ada wayang sebagai permainan bayang-bayang dan iringan gamelan sebagai bagian dari musik tradisi. Namun, ia memadukannya dengan iringan band. Lagunya tidak hanya tembang-tembang tradisi yang biasa dinyanyikan pesinden, tapi juga lagu pop atau kebanyakan lagu ciptaannya sendiri.
Ia juga menggunakan bahasa yang bisa dipahami kalangan muda. Untuk warga Jakarta dan kota besar lainnya, ia pentas menggunakan Bahasa Indonesia. Ia mengemas pertunjukan menggunakan semacam konsep monolog dengan banyak media ungkap, salah satunya teater. Untuk cerita, ia tetap menggalinya dari khazanah wayang. Namun ia interpretasi ulang dan dicocokkan dengan isu hari ini. Menurut Nanang, itu bukanlah sebuah pemaksaan, karena problem yang ada di cerita wayang pun memang masih tetap aktual dengan situasi hari ini. Cerita wayang memang dekat dengan masyarakat.

Dengan konsep pemanggungan seperti itu, bukan berarti pula ia menjadikan wayang sebagai kendaraan untuk lucu-lucuan. Namun cerita wayang itu ia garap dan disampaikan dengan kemasan yang lebih sesuai untuk kalangan muda. Nanang berharap, dengan begitu penonton akan merasa asyik menikmati petunjukan wayang, dan tetap bisa mengambil pesan dari cerita yang dipertunjukkan untuk dibawa pulang.


Nanang pertama kali mementaskan Wayang Urban pada tahun 2006 di Solo. Kala itu, ia masih menggunakan Bahasa Jawa tapi dengan gaya pemanggungan yang kontemporer. Ternyata, sambutan penonton muda ini sangat bagus, karena pada dasarnya memang inilah bentuk pertunjukan wayang yang mereka inginkan. Kalangan sesepuh pun tak mengkritik pertunjukannya. Bahkan, mereka mendukung karena kontennya tetap pada ranah tradisi.

 

Gagasan konsep pertunjukan ini sebenarnya muncul sepulangnya dari pentas di Portugis. Waktu itu, ia berkolaborasi dengan seniman setempat, Jose Lorenzo, mementaskan lakon Cahaya dari Jawa. Sebagai dalang, ia tetap memainkan wayang tapi dengan paduan mini orkestra. Ternyata, pertunjukan ini menarik perhatian masyarakat setempat.  


Setelah menggelar pertunjukan di Solo, setahun kemudian ia mulai pentas di Jakarta. Sambutan penonton pun juga bagus. Mereka jadi memahami ceritanya. Dugaan Nanang benar, lewat pentas wayang urban, sekat-sekat kendala untuk mengenalkan wayang pada kalangan muda, bisa dilebur. Bahkan, teman-teman yang memperkuat wayang urban tidak hanya dari Jawa saja. Ada pula yang berasal dari Manado, Sumatera, dan Kalimantan. Tujuannya memang ingin memperkenalkan wayang kepada siapa pun.


Selain mementaskan wayang urban, Nanang pun tetap tidak meninggalkan tradisi pentas mendalang semalam suntuk. Ia juga pernah membuat wayang jazz bersama Luluk Purwanto dengan tajuk pertunjukan Mahabharata Jazz & Wayang. Kala itu, di tahun 2003, ia pentas keliling 20 kota di Jawa dan Bali. Semasa kuliah di Jurusan Pedalangan, ISI Surakarta, ia juga menghidupkan lagi Wayang Sandosa milik kampusnya.


Ia membuat naskah, mencari sponsor, dan mengemasnya dengan format yang ia kembangkan. Bentuk pertunjukan Wayang Sandosa ini adalah, penonton menyaksikan panggung dengan siluet wayang di layar sekitar 7 meter. Penonton ibarat menonton bioskop, tapi berupa bayang-bayang wayang. Peraga wayangnya juga cukup banyak, mereka bekerja seperti dubber. Wayang Sandosa ini pernah pentas keliling kampus dan di panggung-panggung pertunjukan, termasuk di luar negeri.


Setiap bulan, Nanang selalu memiliki jadwal pentas di mana-mana. Mulai dari main di gedung pertunjukan bergengsi, acara kantor, bahkan acara ulang tahun. Dari situ terbukti, bahwa wayang bisa dimainkan di mana saja. Selain itu, setiap hari ia juga mendalang melalui Twitter. Ia mempersilahkan followernya yang berjumlah tiga ribuan untuk menanggap, atau memesan cerita. Ternyata, kicauannya ini dikumpulkan oleh Nora Lim, seorang WNI yang tinggal di Singapura, dan menerbitkannya dalam bentuk buku. Saat ini sudah satu buku yang diterbitkan dan akan menyusul dua buku lanjutannya.


Nanang pun juga bergabung dalam pertunjukan wayang orang, dan menjadi salah satu pengisi acara Jalan Sesama yang tayang di televisi swasta, ia terlibat sebanyak 60-an episode. Di Jalan Sesama ia berperan sebagai dalang petualang. Ia tidak hanya mendongeng cerita wayang, tapi juga kisah-kisah Nusantara.
Semasa kecil tinggal di kota kelahiran di Ponorogo (Jawa Timur), Nanang memang sudah menyukai wayang. Meskipun kakeknya seorang lurah dan bapaknya adalah guru, tapi jika ditilik dari garis keturunan, ia memang memiliki garis dalang dari adik kakeknya. Selain itu pamannya pun juga ada yang bekerja sebagai dalang, dan ia sering mengikuti pamannya kala pentas.


Nanang yang semasa mudanya suka nge-band ini sebetulnya tidak pernah bercita-cita menjadi dalang. Ia ingin bekerja kantoran. Bahkan sampai ia lulus SMA jurusan fisika, ia masih belum ada keinginan untuk menjadi dalang. Sebenarnya saat itu Nanang berhasil masuk Jurusan Elektro, Universitas Brawijaya, Malang, lewat jalur PMDK. Sayangnya, kondisi ekonomi keluarganya tidak memungkinkannya untuk kuliah. Nanang pun sempat kecewa dan menjadi anak nakal.  Ia sempat menggemari minuman keras dan bergaul dengan preman terminal.

 

Sampai suatu ketika, ia berkenalan dengan Mas Pri, seorang mantan preman yang sudah insaf dan berprofesi sebagai sopir. Mas Pri suka mengajaknya nonton wayang kulit. Salah satu pertunjukan wayang kulit yang mereka tonton berjudul Rama Nitis, dengan dalang Ki Gondo Suyatno. Sepanjang melihat pertunjukan itu, Nanang merasa disindir sang dalang. Ia seperti sedang dimarahi akibat kenakalannya. Apa saja yang disampaikan sang dalang lewat lakon wauyang itu, semuanya masuk dan nyangkut di pikirannya.


Usai pertunjukan, Nanang pun menyempatkan untuk sowan ke rumah si dalang. Ia menyampaikan apa yang ia rasakan saat menyaksikan pertunjukan dalang itu. Dan di hari itu juga ia sekaligus menyampaikan keinginannya untuk hidup menumpang di rumah Ki Gondo Suyatno. Dalang Ki Gondo Suyatno termasuk dalang yang sangat dihormati dan sering kali pentas di kawasan Ponorogo. Selama hidup menumpang, Nanang punya tugas harian membantu pementasan dalang Ki Gondo Suyatno dengan menata gamelan dan menyiapkan wayang. Ketika dalang Ki Gondo Suyatno mulai pentas dengan pakaian pengrawit, Nanang selalu duduk di belakangnya menyiapkan wayang.


Suatu hari setelah tiga bulan menumpang pada Ki Gondo Suyatno, ia diminta menyiapkan wayang untuk sebuah lakon yang akan dipentaskan pada sebuah acara hajatan. Seperti biasa, sore harinya, ia sudah berangkat ke lokasi hajatan untuk mempersiapkan segalanya. Saat itu, dalang Ki Gondo Suyatno yang biasanya selalu datang malam hari jelang pementasan, namun sampai jam 21.00 malam, beliau belum juga datang. Sementara tamu sudah berkerumun, menandakan pertunjukan harus segera dimulai.


Kemudian asisten Ki Gondo Suyatno yang bernama Pak Kruwet langsung menyuruhnya menggantikan, sampai si dalang datang. Dengan keringat bercucuran akhirnya Nanang pun memberanikan diri mendalang sampai satu babak, walaupun dalam hatinya masih ragu dan tak merasa pantas menggantikan peran dalang Ki Gondo Suyatno. Usai satu adegan, barulah Ki Gondo Suyatno datang dan langsung mendalang. Beberapa hari kemudian, ia pun baru mengetahui bahwa semua kejadian itu ternyata skenario si dalang Ki Gondo Suyatno.      


Dalang Ki Gondo Suyatno sudah merencanakan dan bernegosiasi dengan si empunya hajat bahwa ia akan disuruh mendalang. Ia pun sempat menyampaikan permohonan maaf kalau penampilannya kurang bagus, karena selama ini tidak pernah diajari mendalang oleh Ki Gondo Suyatno. Namun jawaban dari Ki Gondo Suyatno membuatnya kaget. Ternyata, kebiasaannya yang selalu duduk di belakang si dalang saat pementasan, sudah dianggap Ki Gondo Suyatno sebagai proses belajar.


Sejak itu, Nanang pun sudah memantapkan diri untuk menjadi dalang, atas dukungan Ki Gondo Suyatno. Dalang Ki Gondo Suyatno selalu mendorongnya untuk mau menerima tawaran setiap kali ada yang mau nanggap. Dan masih memperbolehkannya mengikuti pentas dalang Ki Gondo Suyatno, bila ia tidak ada jadwal pentas sendiri. Dan ternyata kalimat Ki Gondo Suyatno itu benar-benar sakti. Nanang mulai mendapatkan banyak order untuk mendalang, hingga akhirnya ia mulai sering mendalang di Ponorogo.


Dua tahun kemudian, karena ingin mengembangkan kemampuannya mendalang, barulah ia kuliah di Jurusan Pedalangan, ISI Surakarta. Di kampus itu ia belajar berbagai pakeliran. Ia juga jadi mengetahui wayang keraton, wayang Sragen, dan lainnya. Lulus tahun 2001, Nanang pun semakin memantapkan langkahnya untuk menjadi dalang.


Kini, ia masih ingin terus berproses. Semua yang ia dapatkan saat ini juga atas dukungan istrinya, Widyarsi Kristiani Putri. Istrinya adalah seorang penari yang ia kenal semasa kuliah. Ia pun kerap berdiskusi dengan sang istri, terutama membahas soal produksi pertunjukan wayang.   
    



0 komentar:

Posting Komentar